Sentra Sepatu Gang Dolly Kini


Setelah ditutup, wajah gang Dolly yang dulu gemerlap dan riuh menjadi tak ubahnya kota mati. Banyak wisma-wisma yang dibiarkan terbengkalai karena ditinggal penghuninya. Hingga akhirnya datanglah para relawan yang membuat Dolly kembali hidup. Bukan, bukan untuk dijadikan tempat bisnis esek-esek lagi, melainkan diberdayakan melalui kegiatan ekonomi kreatif.

Tahun 2016 merupakan tahun kebangkitan bagi warga di kawasan Dolly. Pemberdayaan masyarakat gencar dilakukan melalui beragam pelatihan, dengan target pertumbuhan usaha kecil menengah. Di sini, penjahit bahan sepatu untuk industri dilatih memroduksi sepatu sendiri. Salah satunya, produksi sepatu di Kelompok Usaha Bersama (KUB) Mampu Jaya.

KUB Mampu Jaya menempati eks wisma Barbara, wisma yang kabarnya terbesar ketika lokalisasi Dolly masih jaya. Tak lama berselang setelah Dolly ditutup, sebanyak 30 orang yang terkena imbas penutupan lokalisasi ini diberi pelatihan tentang produksi sepatu dan sandal. Dari pelatihan tersebut
kemudian lahirlah Kelompok Usaha Bersama Mampu Jaya dengan pekerja yang berasal dari pelatihan dan saling berbagi tugas dalam rangkaian proses produksi.

Hasil produksi KUB Mampu Jaya tak cuma dipasarkan di wilayah Surabaya saja, namun mulai merambah ke luar pulau Jawa. Bahkan di tahun 2016 lalu, KUB Mampu Jaya dipercaya untuk mengadakan souvenir berupa sepatu edisi khusus dalam even UN Habitat III.

Selain produksi alas kaki, ada juga industri pembuatan batik, sablon, dan makanan kecil di kawasan ini. Dengan lahirnya berbagai industri kreatif tersebut, diharapkan dapat mengubah stigma negatif gang Dolly yang dulu identik sebagai lokalisasi menjadi kawasan pusat industri.

Saat itu, setidaknya ada 30 perajin sepatu, yang mengerjakan pesanan sepatu dan sandal kulit dari beberapa SKPD Kota Surabaya. Namun, seiring berjalannya waktu, perajin semakin berkurang. Penyebabnya, harga jual yang masih rendah, yang membuat pendapatan KUB belum mencapai Rp 1 juta perorang dalam sebulan.

Atik Triningsih (34), sebagai Ketua KUB mengungkapkan, setiap bulan mereka harus menyelesaikan 2.000 pesanan sandal dari lima hotel. “Saat ini, banyak warga yang tidak mau lagi menjahit sepatu, maka kami dibantu tenaga dari Disperindag dan beberapa warga,” ujarnya, Rabu (24/5/2017).

Selain Atik, ada tiga perajin yang masih bertahan di KUB ini yaitu, Yuni Tri Wijayati (40), Ida Ariani (48) dan Safrinah (42). Produksi sepatu dan sandal, merek PJ Collection ini, digarap di bangunan enam lantai, yang dulu terkenal sebagai 'Wisma Barbara', Jl Kupang Gunung I atau Gang Dolly.
(Source: http://surabaya.tribunnews. com, http://www.meriskaputri.com)