Sepatu Empat Wanita Ini Buat Selundupkan Sabu
9:30:00 AM
Crime
Polsek Medan Helvetia berhasil membongkar jaringan peredaran narkotika jenis sabu-sabu, yang dilakukan empat wanita asal Aceh. Modusnya terbilang baru, sebab barang haram itu dikemas dalam plastik yang diselipkan dalam sandal dan sepatu yang dipakai ke empat wanita tersebut.Kapolsek Medan Helvetia Kompol Trila Murni mengatakan, dari keempatnya disita barang bukti sabu sekitar 1 Kg.
Adapun keempat tersangka adalah, Fauziah Ishak (36) warga Desa Pulau Lawang Kecamatan Peu Dadah Kabupaten Biren Aceh Utara, Darwati Ajalil (38) warga Desa Buket Paya Kecamatan Peu Dadah, Kabupaten Bireun Aceh Utara, Nurlaila (45) warga Desa Pulau Lawan Kecamatan Peu Dadah, Kabupaten Bireun Aceh Utara dan Yisniari (20) warga Desa Keude Alue Reheng Kecamatan Peu Dadah, Kabupaten Bireun Aceh Utara.
“Mereka ditangkap di salah satu hotel Jalan Gatot Subroto (Gatsu) Medan, Sabtu (28/10/2017) malam,” ujar Trila, Minggu (29/10/2017).
Disebutkannya, penangkapan ini bermula saat pihaknya menerima informasi adanya kurir narkoba yang membawa sabu dari Aceh menuju Jambi. Setelah dilakukan penyelidikan, petugas mendapatkan kabar kalau para kurir itu menginap di hotel sebelum melanjutkan perjalanan ke Jambi. Setelah diketahui tempat penginapan para kurir itu, polisi berpakaian preman langsung menuju ke lokasi hotel.
“Sesampainya di hotel, petugas melakukan penyamaran sebagai pekerja hotel (receptionis). Lalu polisi masuk ke kamar di lantai II yang dihuni oleh para pelaku,” beber mantan Wakapolsek Medan Sunggal ini.
Begitu masuk di kamar itu, polisi pun langsung melakukan penggeledahan di seluruh sudut ruangan. Awalnya polisi tidak menemukan barang bukti sabu, tapi kecurigaan petugas muncul melihat sandal bertumit para pelaku seluruhnya serupa.
“Di situlah petugas mencoba membuka jahitan sandal dan menemukan 8 bungkus plastik berisi sabu yang diperkirakan seberat 1 Kg. Selanjutnya keempat wanita itu beserta barang bukti diboyong ke Mapolsek Medan Helvetia untuk diproses lebih lanjut,” sebutnya. (Source: goaceh.co)
Polisi Razia Nike Palsu, Banyak Toko Tutup
12:20:00 PM
Crime
Sedikitnya 20 toko perlengkapan olahraga di Pasar Klithikan Notoharjo, Semanggi, Solo, tutup pada Jumat (21/7/2017) setelah kepolisian merazia sepatu merek Nike palsu di sejumlah pasar tradisional di Kota Solo, Kamis (20/7/2017).
Pasar Klithikan menjadi salah satu sasaran razia tim Subdit Ekonomi Khusus Ditreskrimsus Polda Jateng selain Pasar Ngudi Rejeki di Gilingan, Banjarsari. Di Pasar Notoharjo polisi menyita ratusan produk sepatu bahkan informasinya sempat ada dua pedagang yang diciduk aparat.
Seorang tukang parkir di Pasar Klithikan, Rian, menjelaskan tim kepolisian mendatangi Pasar Klithikan pada Kamis siang. “Mereka memeriksa toko-toko di sini terus barang-barang seperti sepatu disita. Tidak hanya sepatu merek Nike KW, tapi informasinya ada Yonex, juga Adidas. Dua pedagang
juga kemarin sempat dibawa polisi,” kata Rian tanpa menyebut identitas kedua pedagang tersebut.
Toko olahraga di Pasar Klithikan menempati beberapa blok. Di salah satu blok dekat pintu masuk kendaraan, ada seorang pedagang yang buka tapi hanya menjual sepatu roda. “Kami semua cari aman dulu. Setidaknya untuk tiga hari ke depan kami enggak akan jualan dulu. Ini saya hanya jual sepatu roda yang enggak ada barang tembakan,” kata pedagang yang enggan disebut namanya itu.
Dia membenarkan ada rekannya yang sempat diciduk polisi. “Tapi buat apa polisi menangkap pedagang kecil kayak kami, wong kami ini juga kulakan. Kalau mau menangkap ya produsennya yang besar,” tutur dia. Pedagang tersebut mengatakan setelah razia, para pedagang di Pasar Klithikan khawatir. Mereka memilih tiarap sampai situasi kondusif lagi untuk berdagang. “Bathi mung Rp5.000 lo, kok yo resikone nganti kaya ngene (Untung cuma Rp5.000 lo, kok ta risikonya sampai kayak begini),” tutur dia.
Sementara itu, tidak beroperasinya sejumlah toko olahraga di Pasar Klithikan membuat pengunjung kecele. Seorang pengunjung, Andi, sempat bertanya-tanya kepada tukang parkir atau pedagang di toko lain alasan tutupnya toko-toko olahraga di sana. “Biasanya saya ke sini pagi pukul 08.00
WIB sudah pada buka, hla ini kok kompak tutup semua. Wah ternyata,” kata Andi yang mengaku pernah berbelanja produk KW.
Lurah Pasar Klithikan Notoharjo, Sumadi, mengaku sering mewanti-wanti pedagang agar memperjualbelikan barang yang baik. “Artinya bukan barang gelap, bukan barang palsu. Pembinaan seperti ini dulu sering kami sampaikan kepada pedagang pakaian bekas, termasuk juga kepada pedagang barang-barang olahraga,” kata Sumadi.
Jika belakangan ada operasi dan penyitaan produk palsu dari kepolisian, menurut Sumadi, itu sudah menjadi kesalahan pedagang. Kepada pedagang onderdil, dia juga meminta untuk tidak menerima barang curian karena bisa kena pasal penadahan.
“Kayak dulu kan Klithikan disebut pasar maling. Kami berupaya memperbaiki image itu, janganlah jual-jual barang curian begitu. Kalau urusan jual sepatu palsu, kami serahkan urusannya ke kepolisian,” ujar Sumadi. (Source: solopos.com)
Buah Keuletan, Ketekunan dan Kerja Keras
6:52:00 AM
Features
Dirikan Pabrik Sepatu Bermodal Rp 10 Juta
Keuletan, kesabaran dan kerja keras pasti membuahkan hasil. Hal itu dibuktikan Tri Mulyo (50), warga Jl Jaksa Agung Suprapto, RT 01 RW 01, Dusun Kedondong, Desa Sumbergedang, Kecamatan Pandaan, Kabupaten Pasuruan. Berbekal uang Rp10 juta, ia kini sukses membangun industri sandal dan sepatu. Seperti apa kisahnya?
Tri mengaku sudah hampir 18 tahun menekuni bisnis tersebut. Karena konsistensinya, usahanya tersebut terus berkembang. Ia mengatakan produknya tak kalah dengan sepatu dan sandal bermerk yang ada di mall atau distro ternama. Tri menamakan usaha miliknya dengan sebutan “Three Star’s”.
Ditemui wartawan media online di sela-sela melayani pembeli yang datang ke toko sekaligus tempat tinggalnya, Tri mengatakan bahwa asal muasal dirinya terjun ke bisnis sepatu dan sandal berawal dari dirinya yang menjadi korban PHK (pemutusan hubungan kerja), lantaran perusahaan tempatnya bekerja mengalami kebakaran dan mengakibatkan kerugian material hingga miliaran rupiah.
“Saya dulu buruh di pabrik sol, dan kira-kira tahun 1996 pabrik kebakaran sehingga banyak karyawan yang dirumahkan termasuk saya. Bingung sekali waktu itu karena saya mikir kerja apa nanti. Tapi tiba-tiba saya ingin membeli sol-sol yang sudah reject (rusak), dan ternyata diperbolehkan oleh perusahaan,” kenang Tri akan masa kelamnya dulu.
Tri menjual sol-sol itu ke salah satu pabrik di Mojokerto dengan sistem barter (tukar barang) sepatu. Dengan harapan mendapatkan banyak sepatu yang siap dijual kembali. Tapi ternyata sepatu yang didapatkannya juga dalam keadaan reject sehingga dirinya memilih untuk membuat sepatu sendiri.
“Bisa dibilang dibohongi. Tapi ya sudahlah, saya niat untuk membuat sepatu. Dengan modal kemampuan saya membuat sol, akhirnya saya mencari tukang jahit sepatu ditambah minjem uang di bank Rp 10 juta, saya nekat buat sepatu,” imbuhnya.
Sepatu yang dibuatnya adalah sepatu kantor dan sekolah. Sebelum seperti sekarang, pesanan yang datang kepadanya belum begitu banyak. Tri mengaku menerima pesanan hanya 2-5 pasang sepatu saja dan itupun dengan keuntungan yang tak seberapa.
Berkat ketelatenan dan keuletan dirinya, pesanan demi pesanan akhirnya datang kepadanya, termasuk yang paling diingat adalah pesanan 14.000 sepatu khusus Banser yang dipesan Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf. Saking banyaknya pesanan, Tri mempekerjakan 25 orang untuk selesai sampai 3 bulan.
“Waktu itu ada kegiatan Banser se-Jawa Timur tahun 2003 dan dipusatkan di Kabupaten Pasuruan. Alhamdulillah, saya sangat bersyukur meski sempat khawatir pesanan tak selesai tepat waktu,” jelasnya.
Setelah itu, pesanan demi pesana dalam jumlah besar ia terima termasuk sepatu Brimob dengan jumlah mencapai 700-800 pasang.
Hingga kini, Tri memproduksi banyak jenis sepatu, mulai dari sepatu kantor, sekolah, safety shoes (sepatu pabrik), olahraga, PDH, marching band sampai sepatu fashion. Harganya pun dibrandol sesuai dengan jenis sepatu.
“Kalau safety shoes mulai dari Rp 120-Rp 150 ribu, sepatu kantor Rp 80-Rp 120 ribu, sepatu sport atau olahraga antara Rp 80-Rp 150 ribu, sepatu sekolah mulai Rp 60-Rp 150 ribu, sepatu PDH mulai Rp 120-Rp 200 ribu dan sepatu fashion mulai dari Rp 75-Rp 350 ribu,” akunya.
Dari usaha yang dirintisnya, Tri mampu menyekolahkan anak pertamanya, Arit Multi Prawiro (24) hingga menjadi dokter gigi serta anak sulungnya yang kini bersekolah di Malang. Selain itu, Tri yang kini memiliki 14 pekerja tersebut sudah mendapat pasar tetap, dan semuanya hampir ke semua daerah se-Indonesia.
“Alhamdulillah, kalau ditanya berapa keuntungan yang didapat, pokoknya cukup untuk menggaji karyawan dan kesejahteraan mereka, dan untuk masa depan anak-anak saya,” katanya. (Kumparan)





















