Model Terbaru High Heels Bertali Mirip Gladiator Tapi Lebih Feminin

Lace-up high heels ini ditawarkan dengan dua macam warna, beige dan hitam. Kedua warna tersebut merupakan alternatif yang bersifat netral agar bisa dipadupadankan dengan berbagai warna busana.

Model Sepatu Bisa Menunjukkan Kepribadian Anda

Kepribadian seseorang bisa diketahui dengan mencermati model sepatu yang dipakainya. Apa model sepati kesukaan Anda dan bagaimana kepribadian Anda ? Baca artikel ini untuk mengetahuinya.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Pilihlah Sepatu Secara Benar Agar Nyaman Dipakai

Jangan terlalu terobsesi oleh model sepatu yang cantik dan stylish, tapi putuskan memilih sepatu berdasarkan pertimbangan kapan dan dimana model sepatu tersebut akan Anda pakai

Buah Keuletan, Ketekunan dan Kerja Keras

 Dirikan Pabrik Sepatu Bermodal Rp 10 Juta


Keuletan, kesabaran dan kerja keras pasti membuahkan hasil. Hal itu dibuktikan Tri Mulyo (50), warga Jl Jaksa Agung Suprapto, RT 01 RW 01, Dusun Kedondong, Desa Sumbergedang, Kecamatan Pandaan, Kabupaten Pasuruan. Berbekal uang Rp10 juta, ia kini sukses membangun industri sandal dan sepatu. Seperti apa kisahnya?

Tri mengaku sudah hampir 18 tahun menekuni bisnis tersebut. Karena konsistensinya, usahanya tersebut terus berkembang. Ia mengatakan produknya tak kalah dengan sepatu dan sandal bermerk yang ada di mall atau distro ternama. Tri menamakan usaha miliknya dengan sebutan “Three Star’s”.

Ditemui wartawan media online di sela-sela melayani pembeli yang datang ke toko sekaligus tempat tinggalnya, Tri mengatakan bahwa asal muasal dirinya terjun ke bisnis sepatu dan sandal berawal dari dirinya yang menjadi korban PHK (pemutusan hubungan kerja), lantaran perusahaan tempatnya bekerja mengalami kebakaran dan mengakibatkan kerugian material hingga miliaran rupiah.


“Saya dulu buruh di pabrik sol, dan kira-kira tahun 1996 pabrik kebakaran sehingga banyak karyawan yang dirumahkan termasuk saya. Bingung sekali waktu itu karena saya mikir kerja apa nanti. Tapi tiba-tiba saya ingin membeli sol-sol yang sudah reject (rusak), dan ternyata diperbolehkan oleh perusahaan,” kenang Tri akan masa kelamnya dulu.

Tri menjual sol-sol itu ke salah satu pabrik di Mojokerto dengan sistem barter (tukar barang) sepatu. Dengan harapan mendapatkan banyak sepatu yang siap dijual kembali. Tapi ternyata sepatu yang didapatkannya juga dalam keadaan reject sehingga dirinya memilih untuk membuat sepatu sendiri.

“Bisa dibilang dibohongi. Tapi ya sudahlah, saya niat untuk membuat sepatu. Dengan modal kemampuan saya membuat sol, akhirnya saya mencari tukang jahit sepatu ditambah minjem uang di bank Rp 10 juta, saya nekat buat sepatu,” imbuhnya.

Sepatu yang dibuatnya adalah sepatu kantor dan sekolah. Sebelum seperti sekarang, pesanan yang datang kepadanya belum begitu banyak. Tri mengaku menerima pesanan hanya 2-5 pasang sepatu saja dan itupun dengan keuntungan yang tak seberapa.

Berkat ketelatenan dan keuletan dirinya, pesanan demi pesanan akhirnya datang kepadanya, termasuk yang paling diingat adalah pesanan 14.000 sepatu khusus Banser yang dipesan Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf. Saking banyaknya pesanan, Tri mempekerjakan 25 orang untuk selesai sampai 3 bulan.

“Waktu itu ada kegiatan Banser se-Jawa Timur tahun 2003 dan dipusatkan di Kabupaten Pasuruan. Alhamdulillah, saya sangat bersyukur meski sempat khawatir pesanan tak selesai tepat waktu,” jelasnya.
Setelah itu, pesanan demi pesana dalam jumlah besar ia terima termasuk sepatu Brimob dengan jumlah mencapai 700-800 pasang.

Hingga kini, Tri memproduksi banyak jenis sepatu, mulai dari sepatu kantor, sekolah, safety shoes (sepatu pabrik), olahraga, PDH, marching band sampai sepatu fashion. Harganya pun dibrandol sesuai dengan jenis sepatu.
“Kalau safety shoes mulai dari Rp 120-Rp 150 ribu, sepatu kantor Rp 80-Rp 120 ribu, sepatu sport atau olahraga antara Rp 80-Rp 150 ribu, sepatu sekolah mulai Rp 60-Rp 150 ribu, sepatu PDH mulai Rp 120-Rp 200 ribu dan sepatu fashion mulai dari Rp 75-Rp 350 ribu,” akunya.

Dari usaha yang dirintisnya, Tri mampu menyekolahkan anak pertamanya, Arit Multi Prawiro (24) hingga menjadi dokter gigi serta anak sulungnya yang kini bersekolah di Malang. Selain itu, Tri yang kini memiliki 14 pekerja tersebut sudah mendapat pasar tetap, dan semuanya hampir ke semua daerah se-Indonesia.

“Alhamdulillah, kalau ditanya berapa keuntungan yang didapat, pokoknya cukup untuk menggaji karyawan dan kesejahteraan mereka, dan untuk masa depan anak-anak saya,” katanya. (Kumparan)

Tanpa Merek, Sepatu Mojokerto Sudah Populer



Mojokerto - Selama belasan tahun Kota Mojokerto menjadi pusat kerajinan sepatu yang rata-rata menghasilkan 2.000 kodi tiap bulannya. Ironisnya, produk alas kaki itu justru menjadi populer di daerah lain karena belum adanya merek resmi.

Ketua Komunitas Pengusaha Alas Kali (Kompak) Kota Mojokerto Emru Syuhadak mengatakan, saat ini industri rumahan (home industry) alas kaki di kota itu mencapai 380 unit dengan melibatkan 15 ribu tenaga kerja. Rata-rata tiap bulan, para pengrajin mampu menghasilkan 2.000 kodi sepatu dan sandal.

Pemasarannya, lanjut Emru, menyentuh hampir semua kota dan kabupaten di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Menurut dia, sepatu buatan pengrajin di Kota Onde-Onde banyak diminati karena desainnya yang terus mengikuti perkembangan model. Mulai dari sepatu berbahan kulit, imitasi, hingga karung goni.

"Rata-rata tiap tahun ada peningkatan penjualan 10%," kata Emru di pameran produk UKM bertajuk gebyar teknologi dan pesta rakyat 2017 di lapangan Surodinawan, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto, Senin (8/5/2017).

Perkembangan industri alas kaki di Kota Mojokerto, jelas Emru, tak lepas dari peran serta pemerintah setempat. Khususnya dalam permodalan. Menurut dia, pemerintah mengucurkan pinjaman modal tanpa bunga mulai dari Rp 10-50 juta.

Hanya saja, yang masih menjadi keluhan para pengrajin terkait belum adanya merek resmi sepatu buatan Kota Mojokerto. Tak ayal, sepatu dan sandal ini justru dianggap buatan daerah lain. "Pemerintah kurang pada pembangunan ikon. Karena yang terkenal malah sepatu Tanggulangin (Sidoarjo), padahal produk Mojokerto," ungkapnya.

Persoalan tersebut juga diamini Wali Kota Mojokerto, Mas'ud Yunus. "Sepatu kita sudah menguasai Indonesia timur, seperti di Tanggulangin itu produk Kota Mojokerto karena kita tak punya merek," ujarnya.

Untuk itu, Mas'ud mengaku telah menyiapkan merek khusus sebagai ikon sepatu Kota Mojokerto. Merk MOKER (Mojokerto Keren) itu akan dipatenkan dalam tahun ini. "Juga kami akan buat workshop semacam rumah sederhana untuk pelatihan produksi dan pemasaran, targetnya 2018,"
tandasnya. (Source: news.detik.com)